Usai Banjir di Medan, Bus Listrik Kembali Beroperasi. Medan mulai bernapas lega setelah banjir hebat yang melanda akhir November 2025. Hujan deras sejak 26 November mengguyur Sumatera Utara, memicu luapan sungai dan genangan air setinggi dua meter di hampir seluruh kecamatan kota. Lebih dari 85.000 warga mengungsi, jalan macet total, dan listrik padam di banyak wilayah. Di tengah kekacauan itu, 60 unit bus listrik milik Pemko Medan sempat terendam di sekitar Lapangan Merdeka. Kabar hoaks soal mogok merebak, tapi kini, usai pemeriksaan ketat, armada ramah lingkungan ini kembali meluncur di jalan raya sejak 1 Desember. Operasional normal ini bukan sekadar kembalinya transportasi, tapi sinyal harapan bagi warga yang haus mobilitas murah dan bersih. Kisahnya menggambarkan ketangguhan infrastruktur kota di saat ujian alam datang mendadak.
Dampak Banjir Hebat di Medan
Banjir ini datang tanpa ampun. Curah hujan ekstrem mencapai 200 milimeter per hari, jebolkan tanggul Sungai Deli dan Babura, genangi 514 titik di 21 kecamatan. Hingga 29 November, 85.591 jiwa dari 30.000 rumah tangga terdampak, mengungsi ke 305 lokasi seperti masjid, gereja, dan balai lurah. Kerugian ekonomi tembus miliaran rupiah: sawah tenggelam, toko tutup, dan kendaraan rusak bertebaran. Di Medan Utara, lima gardu induk PLN terendam, padamkan listrik untuk ribuan rumah. Distribusi BBM terganggu karena angin kencang halangi kapal di Belawan, tinggalkan SPBU antre panjang.
Tak hanya fisik, dampak sosialnya dalam. Anak-anak kehilangan sekolah—semua libur hingga akhir pekan—sementara lansia kesulitan akses obat di tengah lumpur. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, sebut ini bencana terburuk sejak 2009, dengan fokus evakuasi dan logistik darurat via call center 112. Gotong royong warga muncul: tetangga bagi perahu karet, relawan masak bubur untuk pengungsi. BMKG peringatkan hujan lebat berlanjut hingga akhir Desember, buat Pemko perkuat drainase dan siaga longsor di pinggiran kota. Di Sumatera Utara secara keseluruhan, banjir ini bagian dari gelombang besar yang tewaskan ratusan jiwa, tapi Medan tunjukkan respons cepat untuk pulih.
Pemeriksaan dan Kembali Operasinya Bus Listrik di Medan
Bus listrik Medan, proyek unggulan Pemko sejak diluncurkan Agustus 2024, sempat jadi sorotan. 60 unit ini parkir di depot Lapangan Merdeka saat banjir datang, terendam air setinggi satu meter. Rumor mogok karena korsleting baterai viral di media sosial, picu kekhawatiran soal keandalan transportasi hijau. Tapi Plt Kepala Dinas Perhubungan, Suriono, langsung bantah. “Semua armada aman, tak ada kerusakan signifikan,” tegasnya usai inspeksi 29 November.
Tim teknisi fokus cek baterai lithium-ion, sistem rem, dan panel surya—komponen rentan air. Hasilnya nihil: baterai kering, motor listrik utuh, dan software stabil. “Banjir tak sentuh level kritis; desain bus tahan cipratan IP67,” jelas Iswar Lubis, pejabat sebelumnya. Operasional restart 1 Desember, mulai rute utama seperti Medan ke Binjai dan pusat kota. Hingga 5 Desember, 100% armada jalan, angkut ribuan penumpang harian dengan tarif Rp 4.000 per trip. Ini langkah maju, kurangi emisi karbon di kota macet seperti Medan, di mana bus diesel lama sering mogok.
Manfaat Jangka Panjang dan Respons Pemko
Kembali beroperasinya bus listrik ini lebih dari sekadar transportasi. Bagi warga seperti sopir ojek online di Medan Baru, ini berarti pilihan murah hindari banjir lumpur. Armada ini punya AC, WiFi, dan kursi prioritas lansia, bantu mobilitas pasca-bencana. Pemko Medan rencanakan ekspansi: tambah 20 unit baru 2026, integrasikan charging station di SPBU Pertamina yang kini pulih distribusinya. Kolaborasi dengan PLN percepat pemulihan listrik—hingga 6 Desember, 98% jaringan normal di Sumut—pastikan charging tak terganggu.
Tapi tantangan ada. Banjir tunjukkan perlunya depot elevated dan rute alternatif. Pemko instruksikan BPBD bangun tanggul anti-banjir di depot, plus training supir soal navigasi genangan. Respons cepat ini apresiasi Gubernur Bobby Nasution: “Bus listrik jadi model ketangguhan; kita dorong kota lain ikut.” Bagi ekonomi lokal, operasional ini hidupkan pedagang pinggir jalan yang sempat sepi, dan kurangi kemacetan 15% di koridor utama.
Kesimpulan
Usai banjir Medan, kembalinya bus listrik jadi cerita positif di tengah duka. Dari 85.000 pengungsi hingga armada hijau yang lolos uji, ini bukti persiapan kota menghadapi iklim ekstrem. Dengan operasional penuh sejak 1 Desember, warga dapatkan transportasi andal, murah, dan ramah lingkungan—langkah kecil tapi berarti menuju Medan berkelanjutan. Namun, pelajaran banjir ini jelas: investasi drainase, peringatan dini, dan infrastruktur tahan bencana harus prioritas. Medan bangkit lebih kuat, dan bus listrik ini jadi simbolnya—membawa penumpang tak hanya ke tujuan, tapi juga ke harapan baru.

