pasien-diabetes-meninggal-di-tempat-pengungsian-warga-aceh

Pasien Diabetes Meninggal di Tempat Pengungsian Warga Aceh

Pasien Diabetes Meninggal di Tempat Pengungsian Warga Aceh. Bencana banjir bandang yang melanda Aceh sejak akhir November 2025 terus tinggalkan duka mendalam, dengan korban tak hanya dari longsor tapi juga penyakit pasca-bencana. Seorang pengungsi bernama Aisha (63), penderita diabetes kronis, meninggal dunia di kamp pengungsian Aceh Tamiang pada Jumat, 5 Desember 2025. Kepergiannya jadi sorotan pilu karena tak sempat dapat perawatan medis memadai—keluarga bilang obat insulin tak terbawa saat evakuasi tergesa. Ini bagian dari lonjakan kasus kesehatan di posko pengungsian, di mana Kemenkes laporkan ribuan penderita diabetes, ISPA, dan infeksi kulit. Di Aceh Tamiang, 42 ribu jiwa mengungsi, dengan RSUD lumpuh tertimbun lumpur. Insiden ini ingatkan betapa rawannya kelompok rentan seperti lansia di tengah bencana yang klaim 356 jiwa di Aceh hingga 6 Desember. BERITA BOLA

Kronologi Kepergian Aisha: Pasien Diabetes Meninggal di Tempat Pengungsian Warga Aceh

Aisha dan keluarganya terpaksa mengungsi saat banjir bandang hantam permukiman mereka di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, pada 25 November. Air bah datang mendadak, bikin mereka tinggalkan rumah tanpa sempat ambil obat-obatan esensial. Sejak di posko pengungsian, kondisi Aisha menurun tajam: diabetesnya kambuh, tapi fasilitas medis darurat minim. Suaminya, Muhamad Asan, cerita: “Dia sudah lemah, tapi tak ada dokter khusus. Kami minta insulin, tapi stok habis.” Aisha menghembuskan napas terakhir di tenda pengungsian, dikelilingi keluarga yang tak berdaya. Putrinya, Sri Wahyuni, bilang: “Keinginan terakhirnya cuma pulang ke rumah.” Jenazah langsung dibawa ke RS Polri untuk autopsi, konfirmasi kematian akibat komplikasi diabetes tanpa intervensi medis. Ini kasus kedua di Aceh Tamiang usai 10 pasien tewas di RSUD saat banjir.

Kondisi Layanan Kesehatan di Pengungsian: Pasien Diabetes Meninggal di Tempat Pengungsian Warga Aceh

Pengungsian di Aceh Tamiang jadi neraka bagi penderita kronis. RSUD Muda Sedia tertimbun lumpur 40 cm, lumpuhkan 90 persen tenaga medis—62 dokter dan 659 perawat rumah mereka rusak, banyak yang ikut mengungsi. Layanan darurat pindah ke posko, tapi stok obat seperti insulin dan antibiotik terbatas—hanya tahan 2 hari. Kemenkes laporkan lonjakan pasien: 2.481 jiwa terdampak di Aceh, mayoritas luka ringan, tapi penyakit pasca-bencana seperti diare, ISPA, infeksi kulit, dan gangguan lambung naik 30 persen. Lansia dan ibu hamil paling rentan; Polri kerahkan 34 personel DVI untuk identifikasi jenazah dan 12 psikolog untuk trauma healing. Direktur RSUD Andika Putra bilang: “Kami prioritaskan posko, tapi beban berat tanpa listrik dan obat dingin.” Program Makan Bergizi Gratis Prabowo jalan, tapi obat khusus diabetes masih kurang.

Respons Pemerintah dan Relawan

Pemerintah gerak cepat: BNPB salurkan Rp 200 juta tunai per desa, sementara Wakil Menteri Sosial Agus Jabo tinjau 6 Desember, janji tambah 86 ambulans dan tim medis dari Jatim. Relawan PMI Aceh kirim 1 ton abon dan obat trauma sejak 5 Desember, sementara TNI buka rute helikopter untuk logistik. Gubernur Aceh Muzakir Manaf instruksikan 200 tenda tambahan untuk posko, fokus kelompok rentan seperti pasien cuci darah. Warga lokal bantu: guru sekolah jadi relawan cek pasien, tapi tantangan cuaca buruk hambat. Kemenkes target tingkatkan layanan 50 persen dalam seminggu, dengan pengiriman dokter tambahan dari RS Bhayangkara Jambi. “Kami berpacu waktu cegah korban tambahan,” kata juru bicara Kemenkes.

Kesimpulan

Kepergian Aisha di pengungsian Aceh Tamiang jadi duka pilu dari banjir yang tewaskan 356 jiwa di Aceh—simbol kegagalan layanan medis darurat di tengah 42 ribu pengungsi. Dari RSUD lumpuh hingga stok obat tipis, ini ujian besar bagi sistem kesehatan pasca-bencana. Respons pemerintah dan relawan beri harapan: ambulans tambah, obat mengalir, dan fokus rentan. Bagi keluarga seperti Asan, kehilangan ini tak tergantikan, tapi semoga perbaikan cepat cegah ulang. Aceh kuat; gotong royong dan tanggap darurat kunci selamatkan nyawa. Semoga hujan reda, dan pengungsian jadi tempat aman—bukan akhir tragis.

BACA SELENGKAPNYA DI..

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *